AgamaOpini

Ramadhan, Mengafirmasi Syariat dalam Kehidupan

BERITA WAJO – Syariat dalam etimologi berarti “jalan menuju sumber air”. Ulama klasik memberikan interpretasi bahwa yang dimaksud “jalan menuju sumber air” adalah sebagaimana air mengalir dengan lurus begitupulah dengan syariat Allah adalah jalan yang lurus. Secara terminologi syariat adalah aturan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk hambanya. Syariat sebagaimana aturan yang berlaku saat ini. Juga mengatur keseluruhan aspek kehidupan. Mulai dari bangun tidur hingga ingin tidur lagi. Semua tidak lepas dari kaidah-kaidah yang telah ditentukan.

Manusia sebagai objek, yang telah diberi takar dalam melakukan sesuatu. Atau setiap perbuatannya mempunyai batas-batasan, tidak bersifat absolut (tidak terbatas). Sudah menjadi konsekuensi sebagai manusia yang sebelum diciptakan telah mengucapkan kalimat akad kepada Allah. (Allah berfirman) “Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?” mereka menjawab, “benar (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi.” (Kami melakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raf/7:172).

 

Akad yang telah dinyatakan oleh manusia sebelum ditiupkannya ruh. Sudah menjadi alasan untuk tidak melakukan wanprestasi (ingkar janji). Allah telah memberi berupa proyeksi kepada manusia sebelum ditiupkannya ruh. Dengan kalimat “Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?” secara tidak langsung (implisit) kalimat tersebut adalah isi dalam akad yang ber-term akidah. Kemudian manusia menjawab “benar (Engkau Tuhan Kami). Jika ditilik lebih dalam, dapat di dikotomikan isi akad tersebut. Melahirkan berupa akidah, syariat dan akhlak. Akidah yaitu menuhankan Allah dan tidak ada sembahan selain-Nya, syariat yaitu segala aturan-Nya yang dibebankan kepada manusia dalam berbagai bidang diantaranya, muamalah, ibadah, dan memutuskan hukum (qadi atau pengadilan), Akhlak yaitu berprilaku yang baik kepada sesama manusia lainnya.

Dari pengutaraan dikotomisasi dari isi akad antara manusia dengan Allah swt. Maka, manusia wajib mengimplementasikan nilai akidah, syariat, dan akhlak dalam kehidupannya. sebagai bukti manifestasi manusia (hamba), yang telah menyatakan janji kepada Allah swt. setelah manusia dilahirkan di dunia, Allah mengirim Rasul untuk menyampaikan (mengingatkan) kembali kepada manusia bahwa telah terjadi perjanjian antara manusia dengan Allah swt. Agar kemudian, manusia tidak lagi dapat mengelak akan keberadaanya nanti di alam transendental (Akhirat), ketika terjadi penghisaban (perhitungan),

Bahwa belum ada rasul yang menyampaikannya. Sebagaimana firman-Nya “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir”. (QS.Al-An’am:30).

Sejarah perjalanan kerasulan, ketika tiba saat Rasulullah diperintah untuk menyampaikan kebenaran dari Allah swt. Maka, hanya ada dua sifat manusia dalam menanggapinya, pertama, menolak apa yang disampaikan Rasul kepadanya dan kedua, mengikuti apa yang disampaikan Rasul kepadanya (Percaya). Karakteristik manusia yang menolak kebenaran yang telah sampai kepadanya disebabkan faktor nafsu.

Penolakan dikarenakan mengikuti hawa nafsunya, nafsu kedudukan, Sebagaimana para pemuka Qurais dahulu. Ketika Rasulullah saw. Mengajaknya untuk masuk ke dalam islam (tunduk kepada aturan Allah) maka mereka menolaknya dengan sebab, apa yang disampaikan Rasulullah mengancam kedudukannya sebagai orang-orang terhormat di kaumnya. Karena Rasulullah memerintahkan untuk menyembah kepada Allah swt. , Mengharamkan berjudi, mengundi nasib, berzina, dan meyuruh menjalin silaturahmi, Serta mensetarakan seluruh manusia tanpa melihat suku, keturunan, kedudukan dari seseorang. Alasan inilah (nafsu), yang membuat salah satu manusia yang bersifat menolak kebenaran. Kemudian manusia yang bersifat menerima ajakan Rasulullah kebanyakan dari mereka yang memiliki dasar jiwa yang tertindas, kaum lemah. Dengan keadaan yang seperti itu, mereka mudah menerima apa yang disampaikan oleh Rasulullah.

Deskripsi ajakan yang dilakoni Rasulullah kepada manusia dapat dilihat dari jawaban Ja’far bin Abi Thalib ketika ditanya oleh raja habasyah (najasy) tentang apa yang Rasulullah perintahkan kepadanya, beliau mengutarakan “Wahai raja, sesungguhnya kami sama sekali tidak menciptakan agama baru. Tetapi Muhammad bin Abdullah telah diutus oleh Rabb-Nya untuk menyebarkan agama dan petunjuk yang benar serta mengeluarkan kami dari kegelapan menuju terang benderang. Pada awalnya kami adalah kaum yang hidup dalam kebodohan. Kami menyembah api, memutuskan hubungan keluarga, memakan bangkai, berlaku zhalim, tidak menyayangi tetangga, dan yang kuat selalu menekan yang lemah. Dalam kondisi demikian, Allah mengutus Rasul yang kami ketahui asal-usulnya, kami percayai kejujuran, amanah dan kesuciannya untuk menyeruh kami kepada Allah dan mengajak kami ibadah dan mengesakan-Nya.

Dia memerintahkan agar kami menegakkan sholat, membayar zakat, shiyam pada bulan ramadhan dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan batu-batu. Beliaulah memerintahkan kami agar senatiasa jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, menyambung persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga, menjahui yang haram dan menghargai darah. Beliau melarang kami berzina, bersaksi palsu, dan memakan harta anak yatim. Maka kami beriman dan mengikuti risalahnya yang mereka bawa.”
Ajakan yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Bukanlah semata-mata karena nafsunya melainkan wahyu yang telah terpatri dalam diri beliau. Sebagaimana Firman-Nya “kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkan itu (Al-Quran) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Quran itu) adalah wahyuh yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm:3-5)

Begitupun saat ini, ajarannya yang telah disampaikan 14 abad silam tentang nilai ketuhanan (akidah), aturan (syariat) dan ahklak. Masih berlaku hingga hari kiamat kelak yang telah ditentukan waktunya. Mumpung bulan ramadan ini, menjadi momentum bagi kita (manusia) untuk meningkatkan kesadaran akan akad kita dengan Allah swt. sembari menjalankan salah satu kewajiban yakni ibadah puasa di siang hari. Seyogianya kita (manusia) terus merenung, memikirkan aktivitas-aktivitas yang telah kita lalui. Apakah sudah dalam kaidah-kaidah yang telah digariskan Allah? Ataukah kita (manusia) cenderung kepada hawa nafsu?

Allah swt. berfirman “ wahai orang yang beriman. Masuklah kamu ke dalam islam keseluruhan. Dan janganlah ikuti langkah syaitan. Sungguh, syaitan adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah/2:208). Di ketahui, Asbabunnuzul dari ayat ini prihal Abdullah ibn Salam bersama sahabatnya dari Yahudi Bani Nadhir di madinah. Yang masih ter-hegemoni oleh ajaran-ajaran yahudi setelah mereka masuk ke dalam islam. Maka, turun ayat untuk memerintahkan mengimplementasikan islam secara total dalam kehidupannya. Inilah ayat menjadi pedoman bagi kita (manusia) untuk senantiasa menjalankan nilai syariat secara total dalam kehidupan ini.

Demikian jua, telah terpatrinya akad antara kita (manusia) dengan Allah swt. Maka, melahirkan konsekuensi hukum. Apabila manusia menunaikan dan begitulah seyogianya, Maka Allah swt. memberikan ganjaran positif kepada manusia, dengan memberikan kehidupan yang baik di dunia ini dan di akhirat kelak. Begitu sebaliknya, apabila manusia melakukan wanprestasi (ingkar janji), maka Allah memberikan ganjaran negatif, dengan memberikan keburukan di dunia dan begitupula keburukan di akhirat kelak.
Wallahu a’lam bissawab

Penulis : Arung samudra: Mahasiswa UIN Aluddin samata

Editor    : Edi Prekendes

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Close
Close