Cerita Rakyat

Pohon Wajo Putri We Tadampali

Pohon Wajo
Pohon yang tumbuh di Pekarangan rumah We Tadampali

Dalam LSW yang disalin Prof zainal tertuang kata asal mula Wajo

“ Maka tibalah hari yang telah diperjanjikan, sama datanglah orang-orang Boli semuanya, berkumpul di Majauleng, pemerintah dan rakyat, tua dan_muda, tidak ada yang tidak hadir, sama .bermusyawarah dan mengingat adat dahulu di Cinnottabi’………

Beginilah isi perjanjian di Majauleng di bawah pohon bajo besar di Boli………

……… Ialah Arung mataesso. di Boli, lalu sepakat bersepupu sekali mengubah nama Boli dan dinamakannya Wajo’,TelluKajuru é dinamakan Tellué-Turungeng-Lakka

sedangkan Menurut Rahim dalam bukunya Nilai-Nilai utama Kebudayaan Bugis. Mengatakan Wajo adalah tempat atau lingkungan sekitar lokasi rumah yang dihuni We Tadampali dinamakan Tana Wajo.

Wajo adalah adalah nama pohon rindang yang menaungi rumah We Tadampali. Dalam bahasa Bugis pohon Wajo’E disebut juga pohon Bajo, sehingga tempat berdirinya rumah We Tadampali dimana terdapat pohon Wajo’E atau pohon Bajo’ dinamakan Tana Wajo’E atau Tana wajo.

Dengan demikian pada mulanya yang dimaksud orang Wajo adalah mereka yang berasal atau berdomisili di lingkungan rumah We Tadampali yang disimbolkan dengan, atau tempat tumbuhnya pohon Wajo’E atau pohon Bajo

Jika kata Wajo digunakan sebagai nama daerah dan komunitas masyarakat etnik Bugis asal Wajo dewasa ini memang bersumber dari nama pohon Wajo’E atau Bajo, sebagaimana yang tumbuh di sekitar rumah kediaman We Tadampali, sudah barang tentu sangat erat kaitannya antara awal mula masyarakat Waio dengan We Tadampali’

Lanjut Menurut Sangaji dalam bukunya Tinjauan Historis tentang Sifat Demokrasi dalam Sistem Pemerintahan Kerajaan Wajo menyebutkan bahwa We Tadampali adalah seorang puteri raja Luwu yang berpenyakit kusta sehingga dihanyutkan dan akhirnya terdampar di Tosora bersama pengikutnya’ lambat laun di tempat itu mereka berkembang dalam suatu perkampungan

Kalau tulisan A Rahman Rahim itu benar, berarti bahwa putri we Tadampalie memang sudah ada bermukim di sana saat perjanjian antara La Tenri bali dan masyarakat boli di bawah pohon bajo besar di majauleng…..dan kalau kita melihatnya seprtinya pohon bajo itu milik we tadampali dan bisa jadi perjanjian itu di lakukan di halaman rumah we tadampali karena pohon itu tumbuh di halaman rumah we tadampali ……dan la Tenri Tau yang menyebut daerahnya majauleng pasca runtuhnya Cinnotabi menjadi tanda tanya besar, karena kalau kita melihatnya sepertinya daerah majauleng merupakan daerah yang sudah di huni oleh we Tadampali dengan Pengikutnya .

Pertanyaannya kemudian adalah kenapa dalam LSW La Tenri Tau mengklaim wilayah Majauleng sebagai wilayahnya sedangkan sudah di huni oleh We Tadampali dengan pengikutnya…karena saya pikir tidak mungkin sebuah tempat yang sudah di huni oleh sekelompok masyarakat langsung begitu saja di klaim oleh si pendatang tanpa sebuah proses sebab akibat…..bahkan La Tenri Bali pun ketika menentukan waktu dan tempat bermusyawarah pertama kali pasca runtuhnya cinnongtabi langsung menunjuk Majauleng sebagai tempat pertemuan…..

Di satu sisi ada juga We Tadampali terdampar di tosora ada juga yang terdampar di doping ?

Sumber Informasi Facebook : Dian Suhardiman Sunusi

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
error: Content is protected !!
Close
Close