Opini

LOCKDOWN atau SMACKDOWN

BERITA NASIONAL – Sebenarnya saya sudah males menulis ttg Corona, tapi berhubung virus ini dijadikan alat propaganda politik sebagian orang yang menghendaki Indonesia “chaos” maka saya harus tetap menulis dan menyampaikan argumen. Orang – orang yang teriak “LockDown” itu sebenarnya ngerti dampak yang di timbulkan apa tidak? Gambarannya seperti ini, semua orang dilarang keluar rumah kecuali urgent, diberlakukan jam malam, sekolah tutup, kantor tutup, pabrik tutup, fasilitas publik dibatasi aksesnya, pemerintah harus mensuplai kebutuhan pokok 270 juta jiwa selama minimal 3 bulan (seperti Wuhan – China yang menghabiskan dana 20.000 T – silahkan koreksi jika salah), aktifitas kumpul – kumpul dilarang, tempat ibadah tutup, shalat jamaah dilarang, perayaan keagamaan dilarang, Jumatan dilarang, arisan dilarang, RTnan dilarang, dll. Lalu apa yang terjadi?

1. Distribusi sembako mandeg, akhirnya langka, dan harganya selangit. Rakyat bisa mati serentak karena kekurangan bahan makanan bukan mati karena Corona.
2. Orang rantau yang di kota akan mudik serentak karena libur panjang, Suspect Corona bisa menyebarkan virus secara merata di pedesaan.
3. Para Kadrun akan ngamuk dan demo karena pemerintah akan dicap anti Islam.
4. Karakter rakyat Indonesia itu susah diatur dan tidak taat pemerintah, mana tahan mendekam di dalam rumah selama 3 bulan?
5. 20.000 T itu sama dengan APBN selama 10 tahun. China hanya me-LockDown satu kota yaitu Wuhan, nah Indonesia diminta me-LockDown secara nasional. Bisa ga pemerintah menjamin kasih makan rakyat 270 juta jiwa selama minimal 3 bulan? Mungkin bisa dengan cara menambah utang negara. Tapi nanti kalau hutang, oposisi akan teriak, “Presiden Tukang Utang”, padahal Presiden utang untuk ngasih makan rakyatnya.
6. Pengangguran akan semakin bertambah, karena aktivitas ekspor impor berhenti.
7. Indonesia seperti negara mati karena nyaris tidak ada aktivitas manusia.
8. Pak RT bisa marah karena warganya susah diajak ngumpul bareng, padahal sebulan sekali wajib kerja bakti.

Nah apakah kita sudah siap dengan kondisi seperti itu?

Menurut saya pribadi, apa yang dilakukan Presiden sudah benar, tidak perlu LockDown. Cukup isolir para Suspect Corona, obati semampunya. Masyakarat tetap produktif, berkerja seperti biasa, menjaga imunitas tubuh, jaga kesehatan, jaga kebersihan dan higienitas. Untuk propinsi – propinsi yang banyak Suspect Corona, tidak perlu LockDown propinsi tersebut, cukup kurangi aktifitas sosial yang melibatkan berkumpulnya orang banyak.

Saya sebagai pengangguran yang penghasilannya tidak tentu, lebih banyak hidup dijalanan daripada di rumah, sepenuhnya mendukung kebijakan pemerintah. Tidak perlu membandingkan Indonesia dengan China, Singapore, Italy, dll karena masyakarat +62 itu memiliki karakter yang unik dibanding negara – negara lain.

Bagamana menurut kalian ?

Sumber : Satrio Ramadhan Rhomal Putra

Editor : Edi Prekendes

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Close
Close