AgamaOpini

Dari Islam Ritual, Menuju Islam Aktual

BERITA WAJO – Pada tahun 2014, Hosen Askari seorang guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington, Amerika Serikat, melakukan studi pada 208 negara untuk mengetahui negara mana yang paling mengamalkan nilai-nilai islami, dengan melihat tingkat kedisiplinan, toleransi, kejujuran, hasilnya mengejutkan, ternyata tidak satu pun dari negara Islam yang masuk dalam peringkat 25 besar, termasuk Indonesia. Peringkat teratas diduduki oleh negara Newzealand dan Irlandia.
Hal ini perlu kita renungkan , apa yang selama ini menyebabkan umat Islam secara umum kurang mengamalkan nilai-nilai islami?.

Salah satu yang menjadi penyebabnya, karena selama ini perhatian utama kita pada ajaran agama hanya pada aspek fiqhi dan ritual ibadah,
Sangat jarang kita dengar dari seorang pemuka agama menganjurkan kepada kita untuk membiasakan diri tertib di jalan raya, menggunakan helm saat berkendara, bukankah di dalam ajaran agama Islam kita diwajibkan taat pada pemerintah?, dan aturan menggunakan helm adalah aturan pemerintah melalui lembaga kepolisian, maka aturan tersebut wajib ditaati.

Di Masjid dan pondok pesantren tempatnya agama diajarkan, masih sering kita dapatkan WC dan kamar mandi yang bau dan kumuh, padahal kita tahu agama Islam sangat menekankan pentingnya hidup bersih,” kebersihan adalah bagian dari iman”.
Kita sudah terbiasa jika menunda kegiatan rapat, datang terlambat ke kantor, padahal dalam pelaksanaan ibadah puasa dan shalat kita dilatih untuk tepat waktu.
Jika yang dijadikan ukuran tentang yang “islami” adalah aspek pengamalan nilai-nilai, maka sangat banyak perilaku kita selama ini yang tidak “islami”, dan selama ini hal itu tidak menjadi perhatian kita selaku umat beragama.

Meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap agama pada dekade terakhir ini, sepertinya masih belum beranjak dari cara kita selama ini dalam memahami dan mengamalkan agama. Saat ini tren beragama menurut beberapa hasil studi, sedang mengarah ke arah yang semakin konservatif, corak beragama yang fiqhi sentris.

Di tengah meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap agama tersebut, bahkan malah sering menimbulkan masalah: maraknya aksi intimidasi , kekerasan atas nama agama. Dan beberapa hal yang menjadi penyebabnya adalah banyaknya informasi keagamaan yang berasal dari sumber yang tidak otoritatif, terutama melalui internet dan media sosial.

Kecenderungan para pemuka agama menyampaikan materi keagamaan yang tidak utuh. Perbedaan pandangan keagamaan para ulama tidak disampaikan secara terbuka, yang mengakibatkan lahirnya pemahaman agama yang kaku, dan akhirnya membuat orang gampang menyalahkan pendapat yang dianggap berbeda. Ulama besar seperti Quraish Syihab misalnya, karena pendapatnya mengenai hukum memakai jilbab berbeda dengan pendapat mayoritas, dia dianggap ulama yang mengajarkan kesesatan.

Banyaknya muncul pemuka agama yang menyampaikan materi ceramah yang membuat orang terprovokasi untuk memusuhi kelompok lain yang dianggap berbeda.
Beberapa tahun yang lalu kita saksikan aksi persekusi kepada kelompok mazhab Syiah dan Ahmadiyah karena dianggap aliran sesat, acara perayaan maulid nabi dibubarkan oleh sekelompok orang karena dianggap perbuatan syirik

Potret dari beberapa fenomena di atas harus menjadi perhatian kita, khususnya para generasi muda Islam yang kita sebut dengan generasi milenial, yang padanya kita menaruh harapan besar untuk melakukan perubahan kedepan, harus melihat bahwa ada yang perlu ditingkatkan mengenai cara kita memahami dan mengamalkan agama selama ini. Pemaknaan kita tentang apa yang “islami” yang pada umumnya hanya berkutat pada pelaksanaan ritual ibadah harus diperluas menuju tindakan konkret pengamalan nilai-nilai islami. Agama tidak hanya berisi perintah ritual. Antara aspek ritual dan aspek nilai, jangan ada yang kita abaikan di antara keduanya.

Aspek fiqhi/hukum-hukum agama dan segala bentuk ritual ibadah, selain sebagai media untuk berkomunikasi dengan sang pencipta, juga mestinya kita maknai sebagai sarana menuju tercapainya tujuan utama ajaran agama Islam, yakni untuk perbaikan akhlak yang diwujudkan pada pengamalan nilai-nilai islami dalam kehidupan sosial. Di balik ritual ada pesan nilai. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang sangat populer,”… tidaklah nabi aku (Muhammad S.A.W ) diutus selain untuk menyempurnakan akhlak”.

Selanjutnya, yang tak kalah penting kedepan, perbedaan pandangan dan pendapat dalam agama tidak perlu kita anggap sebagai sebuah masalah , yang justru pada akhirnya membuat kita saling menghakimi dan mengklaim yang paling benar. Karena umumnya, berbagai persoalan agama baik pada aspek Fiqhi/hukum-hukum agama maupun akidah yang kita persoalkan hari ini, oleh para ulama-ulama terdahulu kita, sudah selesai diperdebatkan, dan mereka saling menghormati atas segalah perbedaan pendapat yang ada.

Karena ibadah apa pun yang dilakukan dengan sikap merasa paling benar, sesungguhnya merupakan perilaku yang tidak “islami”.
Dan yang terakhir, jangan sampai perilaku kita yang mengabaikan pengamalan nila-nilai islami, membuat agama Islam identik dengan sikap tidak ramah, tidak disiplin, tidak tertib, kumuh dan penilaian negatif lainnya .

Penulis : Wahyuddin Salah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Dakwah dan Kmunikasi (IAI As’adiyah) Sengkang 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
error: Content is protected !!
Close
Close